When death knocks your door..
Hari ini saya mendapat berita yang cukup mengejutkan, salah seorang staff bagian beasiswa di fakultas saya, Pak Maman, telah meninggal dunia tadi malam jam 7.00 di NNCU RS Hasan Sadikin, Bandung. Menurut kabar yang saya dapatkan, kemarin (Minggu, 15/3), beliau mengalami kecelakaan di rumahnya ketika sedang membetulkan genteng. Beliau terpeleset, dan kepalanya terantuk kursi. Darah segar keluar dari telinganya, kata anaknya sih bisa sampai satu ember! Beliau langsung mengalami koma dan segera dilarikan ke rumah sakit. Ternyata ada tulang yang (menembus?) batang otaknya dan beliau harus segera dioperasi. Tetapi tidak bisa karena tingkat kesadaran beliau yang hanya tingkat 4, jauh dari persyaratan untuk operasi, yaitu tingkat 7. Dan ternyata, Allah SWT. memanggilnya untuk kembali ke pangkuan-Nya. Beliau lalu dikebumikan di Sumedang pada hari Selasa (17/3). Innalillahi wa inna illaihi raji’un.. Semoga amal ibadah beliau diterima disisinya, segala dosanya dihapuskan, diangkat derajatnya, dan diberikan ketabahan kepada keluarga yang ditinggalkannya, amin..
Ada beberapa hal yang sangat saya sesalkan ketika mendengar berita tersebut. Pertama, Beliau merupakan seorang yang menyenangkan dan sering bercanda dengan mahasiswa sehingga membuatnya dekat dan disukai oleh sebagian besar mahasiswa. Saya pun sangat menghargai beliau.Terdapat kenyamanan dan kesenangan tersendiri ketika harus berurusan dengan beliau, dan saya sangat kehilangan hal tersebut. Kedua, saya baru mengetahui kabar berita tentang kecelakaan itu (bukan kabar tentang meninggalnya) tadi malam jam 8.00 ketika pacar saya, Nuki, menelepon saya. Belum habis kekagetan saya, teman saya Rizal dan Topan pun memberondong saya dengan SMS yang memberitahukan bahwa beliau telah meninggal dunia. Kenapa saya yang biasanya rajin online malah terlambat untuk mengetahui berita tersebut padahal beritanya sudah ada di milis dari kemarin? Ternyata S****Y yang saya percayakan untuk ber-internet mengalami masalah, yaitu super lemot! Dan ini sudah hari kedua semenjak dia lemot. Ternyata, bukan hanya S****Y saja, tetapi jaringan internet nasional yang katanya sedang bermasalah. Saya juga tidak tahu pasti tentang berita ini. Mungkin mereka sedang berbenah untuk menyesuaikan diri dengan tarif baru di awal April mendatang. Entahlah.. Selain itu, saya tidak sempat melayat ke kediaman beliau di daerah Jatiroke, Jatinangor karena saya menunggu bimbingan dengan dosen saya. Tetapi tidak ada kabar pada hari itu sehingga saya menjadi sedikit kesal dan menyesal. Padahal kan saya bisa memanfaatkan waktunya untuk melayat beliau, maafkan saya Pak Maman..
Kematian, selalu mengintai kita dimanapun kita berada setiap saat. Tapi banyak sekali orang yang tidak menyadari hal tersebut. Saya sendiri pernah beberapa kali mengalami near-death experience mulai dari yang halus, sampai yang agak ekstrim. Kejadian yang paling saya ingat adalah ketika jaman ospek/PMB dulu. Saya, dan dua orang teman saya, Panji, Rizal, dan Radit yang menjadi saksinya. Saat itu merupakan malam menjelang hari terakhir PMB. Kita baru saja selesai mengikuti acara "penculikan" yang dilakukan oleh para senior kami. Kami sangat letih karena baru saja mengikuti kegiatan PMB sepanjang hari. Singkat kata, dengan rasa ngantuk yang cukup dashyat, kami pergi ke Bandung (catat: kampus kami di JATINANGOR, bukan BANDUNG) menggunakan mobil milik Panji. Saat itu sekitar pukul 1.00 dini hari di jalan tol Cileunyi. Mungkin karena sangat mengantuk dan hampir tertidur, dalam kecepatan yang cukup tinggi mobil yang saya tumpangi lama-lama semakin mengarah ke kanan dan ban mobil sebelah kanan (depan dan belakang) menyerempet pembatas jalan yang ada di tengah. Semua yang tertidur di mobil itu mendadak bangun, dan Panji refleks untuk banting setir agar dapat mensejajarkan mobilnya kembali. Untungnya, kami masih dilindungi oleh-Nya dan tidak terjadi apa-apa. So, drive safe! Dan benar sekali anjuran yang ada di papan petunjuk yang selalu ada di jalan tol, jangan menyetir sambil mengantuk; apabila mengantuk, istirahat!; dan sebagainya. Read it, do it!
Yap, beberapa kejadian yang saya alami itu membuat saya menjadi lebih menghargai hidup yang Tuhan berikan untuk saya. Nyawa saya hanya satu, tidak seperti kucing yang (katanya) ada sembilan. Menjadikan saya untuk lebih dekat dengan Tuhan dan keluarga, karena belum tentu ketika kita bangun esok hari, mereka (keluarga) masih ada untuk saya, ataupun saya masih ada untuk mereka. Selain itu, saya menjadi lebih mengerti perasaan orang yang ditinggalkan oleh keluarganya yang meninggal. Sehingga hal tersebut juga membuat perasaan saya menjadi lebih tergugah apabila mendengar berita tentang kecelakaan ataupun bencana alam yang terjadi.
Hmm.. Setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam menghargai kehidupan dan kematian. Semua yang hidup akan mati dan kembali kepada Tuhannya. Jadi, saya akan (terus berusaha) menggunakan sisa waktu hidup saya dengan hal yang lebih berguna, walaupun terkadang saya juga masih suka lalai. Tetapi kejadian-kejadian tersebutlah yang senantiasa mengingatkan saya kembali.
